Mar…

0
29

Di era dunia sudah semakin kecil, semakin terkompresi, berpikir dan berkerja pun sudah semakin efektif dan efisien, melalui smart intelligence , semuanya bisa didapatkan hasilnya setidaknya bisa diprediksi sampai mendekati kepastian, hanya sebatas pendekatan saja, itulah cara ilmu pengetahuan berjalan.

Sekarang ini, jarang sekali manusia Indonesia, yang tidak menggunakan handphone, seperti halnya Mar sapaan wanita penjual rempeyek udang dan kacang ini, saban hari berjualan, ia membawa gawai pintar disaku celananya, lalu lalang mengantarkan daftar pesanan digitalnya kepada pedang-pedang lain, setiap pagi.

Mungkin apa yang pernah dilihat oleh Bung Karno, sosok petani di Jawa Barat yang bernama Marhaen, darinya lahir Ideologi Marhenisme. Lain halnya dengan Mar yang sudah bersmartphone, ia mampu menentukan koordinat GPS, tahu cuaca, belahan bumi lain, membaca berita dan berselancar didunia mayantara ( virtual reality ). Mar ini sudah bersenyawa dengan realitas digital, yang secara tidak langsung sebenarnya ia telah menjadi cyborg ( separuh daging ,separuh mesin), sambil mengayuh roda duanya, ia secara otomatis ber-simbiosis mutualisme digital. Tanpa disadari, ia telah terkoneksi dengan perangkat teknologi sibernetik itu. Sebangun dengan ungkapan Morpheus kepada Neo dalam film The Matrix, ” Wake Up Neo ?”, dengan kata lain, ” Sadarlah kaum Marhaen, kaum sosialis Digital, bahwa dunia telah berubah drastis, meluap, tanpa menyisakan ampunan “.

Demikian halnya rempeyek udang kesukaanku, tak menyisakan satupun dikeranjang Mba Mar, sampai penasarannya, Aku bertanya lagi ” Mba Mar masih ada rempeyek kesukaanku ?” , ia tersenyum dengan logat Jawa, ” telas Mas !!, seosok tak gowoke Yo.?, oke Mba sipp kataku. “Jangan lupa, kabarke lewat What’s app Yo…katanya “,

Mar ini adalah wanita asal Boyolali pinggiran Jawa Tengah, yang masih jauh bila ditempuh dari kabupaten, merantau bersama suami yang berprofesi sebagai tukang bangunan dan merantau ke Jonggol untuk menyambung hidup.

Kali pertama bertemu denganku di pagi itu, dengan tumpukan rempeyek, Rp. 2500,- per plastik, 3 keranjang ludes. Mar dan smartphone adalah bukti ekonomi rakyat kecil berdenyut meski arus uang dan alat teknologi komunikasi sedemikian cerdas, ia tetap bertahan dengan rempeyeknya, sebagai menu pendamping lauk yang renyah dan nikmat untuk teman sarapan pagi bersama nasi hangat.

Dalam pikirku terlintas, tanpa orang seperti Mar, negara dan ideologi tak berarti apa-apa…

 

***
Penulis: Radius Anwar (Alumni Filsafat UGM)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini